The Dream Team (part 7)

on Sunday, June 28, 2009

It's (Our) Dean Cup (part 2)
Tahun pertama : Malam Keakraban
Tahun kedua : Dekan Cup
Tahun ketiga : Bakti Sosial
Tahun Keempat : - (tidak terdeteksi riwayatnya)
Tahun Kelima : - (tidak terdeteksi riwayatnya)
Tahun keenam : Panitia Lulusan Dokter (PLD)
..........................................................................................................................................................................
Tahun 2005

Tahun kedua kami berada di kampus yang katanya kampus perjuangan."nya" siapa pun aku tidak tahu, yang jelas tahun ini ada tugas yang harus dikerjakan. Tugas yang menurut senior kami adalah tugas angkatan, seperti saat kami mengadakan acara keakraban.
Tugas kali ini adalah mengadakan suatu kegiatan olah raga. Menurut informasi yang kami terima, kegiatan ini bertujuan untuk mengakrabkan seluruh civitas akademika FKUI dan membangun semangat sportivitas.Acara ini dinamakan dengan Dekan Cup.

"(Sungguh mulia sekali kegiatan ini)" begitu yang ada dalam pikiranku.
Persiapan untuk kegiatan ini mulai diadakan. Hari itu kembali Ridho berdiri di depan kelas. Ia berdiri bukan untuk memberikan kuliah yang barang tentu akan mengundang kemurkaan seluruh penghuni kelas. Kali ini dia berdiri untuk memimpin pemilihan Ketua Dekan Cup.
Seluruh anggota kelas diminta mengajukan calon hingga akhirnya muncul dua nama teratas, yaitu Adit, Donny dan Liga. Pemilihan tanpa debat politik serta arak-arakan seperti yang ketua senat lakukan.

Tiga nama tadi diserahkan untuk memilih satu orang oleh mereka sendiri. Pemilihan yang dilakukan tanpa adu jotos, dugaan kecurangan atau penggelembungan suara. Semua dilakukan secara kekeluargaan. Hingga akhirnya terpilihlah Donny sebagai ketua dan Adit sebagai bendahara.
Rapat perdana penyusunan panitia dilakukan. Aku pernah mendengar selentingan kabar mengenai dekan cup dari senior. Bagaimana "keangkeran" Dekan Cup serta sulitnya menjadi panitia. Rapat hari itu semakin menegaskan kabar itu menjadi lebih dari selentingan saja.

Donny memimpin rapat penyusunan panitia ini
"Gw liat potensi yang besar dalam diri loe-loe pada, dan itu amat berguna jika loe mau sumbangkan, untuk dekan cup, untuk angkatan kita" ucap Donny.
Kata-kata singkat yang cukup untuk membakar tekad panitia untuk bersama mengerjakan tugas "berat" ini. Kata-kata yang provokatif yang menjadi ciri khasnya untuk mengelabui kekhawatiran para panitia.

Tugas berat dalam Dekan Cup (DC) dimulai sesaat setelah nama setiap panitia diketik dalam daftar susunan panitia. Tugas berat yang semakin memuncak pada Technical Meeting Dekan Cup (TM DC).
Keangkeran TM DC bahkan melebihi keangkeran DC itu sendiri. Informasi ini sudah kami dapatkan jauh-jauh hari sebelumnya dari senior-senior yang kelak sangat mempengaruhi kami dalam menjalankan dan memahami esensi DC. Informasi ini cukup membuat kami ketar-ketir. Terbayang suasana tegang, adu pendapat, keegoisan dan kesewenang-wenangan pada TM DC. Keangkeran TM DC tidak berakhir dengan cepat. Cerita mengenai TM DC yang bisa dilaksanakan 2 hingga 3 kali semakin melipatgandakan kecemasan kami.

TM DC

Ruang makan Kafetaria dipilih sebagai ruang pelaksanaan TM DC. Pukul 4 teng waktu senior, seluru panitia harus sudah di ruangan rapat dengan berbagai "sesajen". Meja dan kursi disusun melingkar dengan seluruh panitia, terutama penanggung jawab (PJ) cabang olah raga duduk di salah satu sisi meja. Suasana ruangan kafetaria yang tidak terlalu luas semakin menambah aroma kecemasan.

Pukul 4 teng

Beberapa orang senior masuk ruangan, melihat sekeliling ruangan mengharapkan adanya celah untuk dapat memasukkan kesalahan kami kedalamnya. Wajah yang dilipat serta garis bibir yang melengkung kebawah menghiasi hampir seluruh wajah mereka. Sebagian datang masih menggunakan snelli sebagian hanya menggunakan kemeja bahkan kaos oblong. Mereka datang dari berbagai angkatan.
Perlahan tapi pasti kursi mulai di penuhi. "Sesajen" pun mulai mengalir.
"Mengapa tidak ada satu orang senior pun yang kukenal yang datang sekarang" pertanyaan itu mulai menggerayangi kepalaku. "Kacau ini"
"Sreettt" pintu kafe terbuka tampak beberapa orang masuk. Yup, mereka sudah tiba, senior-senior yang biasa bermain sepakbola bersama kami. Walaupun mereka kebanyakan biasa bermain bersama kami, akan tetapi kami mengetahui siapa yang akan menusuk kami dan yang mana yang akan melindungi kami.

Donny membuka TM DC sore itu.
"Bismillahirrahmanirrahim"
Satu persatu PJ membacakan peraturan diikuti bantahan dan permintaan yang terkadang aneh tapi nyata dari para senior. Hingga sampai ke suatu cabang. Disaat seorang PJ membacakan peraturan, seorang peserta TM berteriak kearahnya..

"Woi... Loe mirip Tunggul Ametung"
zzzzziiiiiiiiiiiiiiiiingggggggggggg...

Spontan saja teriakan ini memancing tawa seluruh peserta TM. Sedangkan panitia hanya bisa tersenyum kecut. Sedangkan orang yang di maksud hanya bisa menggaruk-garuk kepala. Mungking saja bila senior tersebut bukanlah senior, mungkin akan keluar kata-kata
"B*S*NG...!!!" dari mulutnya.
Sejak saat itu, sang PJ menjadi populer dan mulai mengukir kisah di pergaulan kampus dan tim sepakbola 2003.

Secara anatomis, ruangan kafe adalah ruangan yang paling cocok untuk melaksanakan TM DC setelah bangsal potong anatomi. Luas ruangan yang cukup untuk membantai seluruh panitia dan menyusunnya menjadi tumpukan sarden di tambah lagi tata suara yang sesuai untuk melipatgandakan teriakan menjadi beberapa dB lebih tinggi.

Untunglah (masih disebut untung), TM DC kami berlangsung 2 kali akibat kurangnya waktu bukan karena hal yang lain. Pembahasan peraturan dua cabang yang berpotensi rusuh (sepakbola dan bola basket) menjadi penyebab TM DC dilaksanakan sebanyak 2 kali.

Belakangan TM DC mulai dipikirkan untuk tidak lagi "seangker" dulu karena DC bukan untuk menyiksa. TM DC mulai dipindahkan ke dalam ruangan yang lebih luas (ruang anatomi). DC adalah wujud sportivitas. Sportivitas yang berarti banyak hal positif. Berjiwa besar mengakui kekalahan, mensyukuri kemenangan, menghargai lawan dan kawan, mengikuti aturan, mengedepankan logika bukan kekerasan, kesetiakawanan dan yang terpenting adalah persaudaraan.

Kalau kita memperbaharui silahturahim dengan saudara saat idul fitri, maka DC adalah ajang itu terhadap seluruh sivitas akademika FKUI. Bukankah saat idul fitri kita tidak berkelahi degan saudara atau teman kita, mengapa kita melakukannya di DC ???

DC bukan sekedar ajang olah raga. DC merupakan ajang persaudaraan. Tujuan mulia yang masih jauh tapi pasti akan tercapai. Semoga pikiranku bukanlah hal yang utopia semata.