Cerita ini di awali dengan pesan singkat di Facebook yang isinya mengajak seluruh anggota inti TBM FKUI angkatan 2003 buat kumpul dan foto bareng buat dipajang di TBM sebagai kenang-kenangan.
Pesan pun berlanjut dengan ide untuk kumpul-kumpul mengingat sudah lama sejak kami berkumpul untuk makan malam bersama di Pasar Festival.
Tercetus ide untuk melakukan perjalanan melintasi bagian selatan Provinsi Banten. Seperti biasa, teman gw Reyhan yang selalu punya ide dan rencana untuk melakukan perjalanan yang extra ordinary.
We're going to Sawarna Beach...!!!
Kirim mengirim pesan terus terjadi (keajaiban facebook, membuat komunikasi jauh lebih mudah)
Dari 17 orang anak TBM 03 (Gw, Reyhan Eddy, Danny Maesadatu, Ridho Ardhi S, Qushay Umar, Liga Yusvirazi, Agus Hadi, Iwan Junianto, Dian Larasati, Erika NZ, Gitta RC, Dewi Utari, Cemara AM, Regina PP, Mulki Angela, Zafika RM, Vita Silvana) ternyata 4 orang tidak bisa ikt serta dengan berbagai alasan, yaitu Liga, Agus, Iwan, Cemara, Zafika. Dalam perjalanan kali ini kami menundang rekan non TBM tetapi masih merupakan mahasiswa FKUI 2003 jug, Irsyad, yang sedang memperdalam kemampuan Fotografi untuk mengabadikan acara kami. (Thanks to Icad)
Hari 1
Hari yang direncanakan tiba, SMS berantai dikirim dengan isi agar kami kumpul di kampus jam 7 pagi pada hari Sabtu, 14 maret 2009.
Seperti biasa, sepertinya amat susah
untuk mengumpulkan nyawa yang terserak saat tidur pada hari libur. Sambil menyaksikan calon anggota baru yang sedang berlatih, satu persatu anggota pun mulai hadir hingga akhirnya terkumpul semua pada pukul 08.30
Setelah membereskan perlengkapan di sana sini, pada pukul 9 pagi akhirnya kami berangkat dengan tidak lupa berpose di depan kampus.
Menurut EO, Reyhan, perjalanan menuju sana akan di tempuh dalam waktu sekitar 5 jam.
Jalur yang kami ambil adalah :
Tol-
Berhenti untuk isi bensin dan perut-
Menuju Serang-
Keluar Tol Serang Timur-
Sawarna- FINISH
Disana kami menginap di penginapan yang sejatinya adalah rumah warga, yang lebih populer dikenal sebagai Homestay, tepatnya di Batara Homestay kepunyaan Bapak Hudaya.
Rumah beliau terdiri atas dua lantai dimana lantai ke-2 lah yang di sewakan dengan harga sewa Rp 60 ribu satu hari + makan 3 x sehari (edan gak murahnya...)
para pria mengambil kamar yang paling besar sedangkan yang perempuan mengambil kamar yang lain.
Dari sini ke pantai sebenarnya sudah dekat. hanya perlu kurang lebih 10 menit berjalan kaki.
Kalau berjalan dari penginapan, maka yang akan ditemui adalah Jembatan Gantung
yang mirip seperti Film Indiana Jones beserta efek ayunannya. Butuh konsentrasi lebih bagi kami untuk melewati jembatan ini dibandingkan warga sekitar yang sehari-hari melewati jembatan ini bahkan dengan sepeda motor nya.
Melewati Jembatan gantung, kami harus melewati halaman rumah warga di atas jalan setapak menuju pantai..
Melewati Jembatan gantung, kami harus melewati halaman rumah warga di atas jalan setapak menuju pantai..
Here is Sawarna Beach..
Diantara semua yang ada, cuma kami bertiga, Gw, Qushay, dan Irsyad yang bener2 punya kedekatan historis dengan laut (sedaappp)
gw, dari kecil sampe SMP, gw tinggal di rumah gw di Sumatera yang cuma setengah jam dari Selat Malaka, trus SMA di tempat yang kalau gw buka jendela kamar asrama gw, maka Samudera Hindia adalah yang dapat gw lihat dalam sekali sapuan pandangan.
Qushay, dia datang dari Makasar dengan suku Bugisnya.. Kurang nge-Laut apa coba Suku Bugis..
Irsyad, ni anak lebih sakit lagi, buka jendela rumah langsung keliatan Pulau Tidore, coz He comes from Ternate.
Jadi, bisa di perkirakan bagaimana reaksi kami saat melihat Laut... Real Sea.. Bukan kayak ANCOL yang butek...
"Kami seperti orang yang puasa 40 hari ngeliat Nasi padang lengkap dan GRATIS......"
Langsung buka baju..
...Lari-lari di pantai...
Byurrr.. nyebur di lautan Pantai Selatan Jawa.
sambil tidak lupa pose wajib peserta
Malamnya acara berlanjut dengan acara barbecue-an di pinggir pantai dengan membuat api unggun. Adalah Riri (Dewi Utari), Traveller sejati dengan dukungan finansial yang memadai yang menyediakan peralatan untuk BBQ. ia sengaja mengemas jauh-jauh dari Jakarta perlegkapan BBQ beserta arang dan sebagainya.
Tempat di pilih yang dekat dengan muara. Padahal awalnya kami ingin sedekat mungkin dengan laut akan tetapi pasang yang tinggi serta anggota tim yang sebagian besar perempuan membuat kami harus puas dengan tempat tersebut.
Akan tetapi.. dengan sedikit modifikasi tempat, kami menemukan spot yang sangat ideal.. Dekat dengan laut, tanah yang datar dan keras serta aman dari amukan pasang laut selatan.
Acara dimulai pada pukul 8.30 malam
Tungku pun di bakar, api unggun di hidupkan.. lidah api menari-nari di ujung kayu yang terbakar mencoba mencapai langit yang tidak ada apaun diatasnya kecuali sekumplan tipis awan, rembulan dan hamparan bintang yang berserakan seperti pasir pantai di bawahnya..
Awesome...
Insanely Beautiful..
Subhanallah....
Cuma itu yang keluar dari mulut kami.

beberapa asik mengobrol dan menyiapkan daging, sebagian menjaga agar api ungun tetap berkobar dan sebagian lagi memanggang... selama hampir dua jam kami memanggang sambil bercanda dan tertawa.
beberapa asik mengobrol dan menyiapkan daging, sebagian menjaga agar api ungun tetap berkobar dan sebagian lagi memanggang... selama hampir dua jam kami memanggang sambil bercanda dan tertawa.
Terkadang tertawa mengingat masa lalu yang di lewati dan membicarakan rencana yang akan di jalani.
Friends.. we've been through a lot
What a night....!!!!
Hari pertama kami tutup dengan kembali ke penginapan pada pukul 1 dini hari...
3 komentar:
foto matahari terbenamnya (terutama yg kedua) bagus bangetttt
yup.. ada versi tanpa orangnya. bagus bwt wallpaper
Post a Comment
Post a Comment