“Conceit is My favourite sin” (John Milton- The devils Advocate)
Gw terkadang suka bingung, apa bedanya orang pede sama orang sombong? Sering kali gw gak bisa ngebedain antara keduanya. Suatu saat gw ngerasa gw adalah orang yang sombong atau kadangkala orang mengatakan bahwa hal itu cuma bagian dari rasa percaya diri yang tinggi.
Untuk ngebedain dua term ini gw sangat suka mengambil suatu judul film yang mana termasuk film favorit gw, The Devil’s Advocate. Film yang dibintangi Keanu Reeves sama Al-Pacino. Buat yang gak tau Al-Pacino gw Cuma mw negasin kalo dia gak ada hubungan darah sama Al-Qaidah ataupun Al-amin Nasution. It’s just a coincidence that they have the same words in their name. Dan satu lagi, Advocate adalah istilah untuk pengacara dan bukan buah alpukat (eventhough it’s sound similar)
Keanu Reeves yang berperang sebagai seorang pengacara muda (Kevin Lomax) yang pintar, penuh percaya diri dan sederhana yang tinggal disuatu kota kecil. Ia sangat terkenal di kota asalnya sehingga membuat sebuah firma hukum terkenal meliriknya untuk diajak bergabung.
Singkat cerita Reeves bergabung dengan firma tersebut yang ternyata dimiliki oleh seorang pria nyentrik, Al-Pacino (John Milton). Reeves ditawari berbagi fasilitas mulai dari gaji yang berkali-kali lipat dibandingkan gajinya dahulu, pergaulan masyarakat kelas atas kaum socialite, Apartemen mewah dan kantor yang luas. Menerima ini semua membuat Reeves harus segera menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitar. Ia pun mulai tampil layaknya seorang pengacara papan atas, rambut klimis terpotong rapi, setelan jas buatan perancang ternama, sepasangsepatu yang harganya bias buat makan satu keluarga miskin di Indonesia selama 4 tahun dan mobil yang seharga satu rumah mewah didaerah menteng.
Hari berjalan di firma tersebut dan Reeves mulai melihat kejanggalan di firma tersebut sampai suatu ketika Reeves bertemu atasannya saat akan berangkat ke kantor. Dia mengajak Reeves berangkat ke kantor bersama. Dia meminta Reeves mengikutinya yang dengan rasa penasaran dituruti.
Al-Pacino membawa Reeves menuruni gedung apartemen, berjalan menuju subway, menumpang subway keluar di stasiun yang dituju, berjalan kembali sambil menyapa beberapa orang termasuk pemilik took kelontong (Grocery), loper Koran dan akhirnya tiba di kantor mereka.
Selam dalam perjalanan mereka, inilah yang dikatakan oleh Al-Pacino, sang atasan, selama dalam perjalanan (kira-kira dalam bahasa gw) : “Janganlah apa yang kita miliki sekarang membuat kita tidak lagi berjalan diatas tanah, Act As Usual as U can, Use public transportation, See people, talk to them, and blend in. Jangan berpikir kamu lebih baik dari mereka.
Ketika Reeves balik bertanya, How long have you doing this?
I do it everyday..
Dari sepenggal adegan diatas bisa kita lihat Al-Pacino atasan sekaligus pemilik firma hukum tempat Reeves bekerja saja melakukan kebiasaan yang menurut sebagian orang kaya sebagai suatu hal yang aneh dan berlebihan malah cenderung nyentrik. Lain halnya dengan orang yang tidak sekaya dan seberuntung mereka, justru biasa melakukan ini.
Percaya diri diri lahir dari kesadaran bahwa dia mampu dan memiliki kemampuan untuk melakukan dan menggapai sesuatu. Percaya diri tidak merusak, percaya diri justru membangun diri sendiri serta orang lain.
Sedangkan kesombongan lahir dari perasaan bahwa dia merasa lebih dari orang lain dan tidak berhak untuk disamakan dengan yang lain. Duania berpusat pada dirinya dan dunia orang lain tidak boleh lebih baik dari dirinya.
Di akhir film Reeves semakin menyadari keanehan pada firma hukum tersebut. Keanehan berupa betapa rakus dan sombongnya orang-rang disekitarnya bekerja. Betapa culasnya mereka. Sesekali istrinya (Reeves punya istri loh di film ini) bermimpi melihat rekan kerja suami dan tetangga apartemennya yang notabenenya teman sekantor sang suami, berubah menjadi makhluk yang menyeramkan terutama sang BOS, Al-Pacino. Reeves akhirnya memutuskan keluar dari firma hukum tersebut dan bersama istrinya kembali ke tempat asalnya dulu.
Di Penghujung film, seorang bekas rekan kerjanya di firma hukum tadi mengunjunginya dan bertanya tentang sesuatu yang dijawab oleh Reeves dengan yakin kepada orang tersebut. Saat berpisah dari orang itu, wajah orang tersebut berubah menjadi wajah Sang atasan, Al-Pacino, sambil berkata
“Kesombongan adalah dosa favoritku”
Sebelum gw nulis cerita ini, sebenernya udah santer terdengar dikalangan koas-koas di FKUI mengenai departemen apa yang menjadi gudangnya dokter-dokter cantik???
Secara aklamasi akan muncul dua nama, bukan satu nama... Apa ???
"Departemen Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin (IKKK) "dan "Departemen Ilmu Penyakit Mata"
Melihat dua nama departemen diatas kita akan bertanya-tanya bukan IKKK, karena suatu kewajaran kalau dokter kulit memiliki paras yang cantik. Coba bayangkan, anda datang ke dokter kulit untuk jerawat anda yang membandel... begitu anda membuka pintu kamar prakteknya, anda menemukan seorang dokter yang wajahnya babak belur karena jerawat.. Males gak sih...???!!!
Oke, dokter kulit wajar punya wajah yang cantik... terus kenapa dokter mata????
Ini juga logis buat dicerna... coba anda datang ke dokter mata karena mata anda belekan dan pandangan jadi kabur... Apa yang anda harapkan begitu mata anda terbuka dan dapat melihat jelas... Seorang dokter mata yang cantik atau dokter yang "seadanya" saja???
bukannya mau menjelek-jelekan departemen diluar mereka berdua... tapi kira-kira itulah fakta yang ada di lapangan dan yang beredar dikalangan koas....
"Please NO Heart Felling"
RGDS
Selain harga sembako, pesawat terbang dan risiko anarki yang meningkat, lebaran juga berhubungan dengan angka urbanisasi.
Setelah lebaran, H+5, kita bakalan menemukan wajah-wajah baru menghiasi wajah ibukota Jakarta tercinta.
Mau bukti???
Coba nanti kalian, terutama yang ngekos atau didekat rumahnya ada warteg.. coba kalian iseng-iseng jalan ke warteg.. buat yang udah jadi langganan dan udah kenalan sama mbak-mbak warteg, bakalan menemukan suatu hal yang secara jamak akan ditemukan di seluruh jaringan franchise warteg se-Jabodetabek... Apa itu..
Kalian pasti akan menemukan personel baru yang mengisi jabatan di warteg tersebut, apapun itu seperti tukang cuci piring baru atau tukang hidang yang baru. Dan kalau kalian bertanya kok ada orang baru, maka jawabannya kira-kira..
" Iyak, di gilir karo warteg yang la..in.."--- et dah, udah kayak Matahari aja pake rotasi SPG.
atau
" Iyak mas, anak ba..ru, yang lama wis orah kerja la..gi"---- ciah, udah kayak outsourcing aja pake sistim kontrak...
Selain warteg, untuk melihat urbanisch2 yang lain bisa dilihat di supir bajaj.. kalian bakalan bisa nemuin tukang bajaj nekat yang baru seminggu di Jakarta udah berani narik penumpang.
However... itu semua sah-sah aja... selama mengunjungi Jakarta gak perlu passport maka urbanisasi masih legal dikerjakan. Dan Mudik adalah momen untuk membuat hal itu terwujud.
Sedangkan gua, gua sih milih mudik taun ini karena gua udah gak mudik taun kemarin dan anarki seputar perut nyaris terjadi di depan mata gw.. (cie... hiperbolis)...
Buat Yang Mau MUDIK.... "JAGALAH BARANG BAWAAN ANDA, JANGAN TINGGALKAN BARANG BERHARGA TANPA PENGAWASAN ANDA"
SELAMAT MUDIK...
RGDS
Puasa selalu identik dengan lebaran yang secara sadar mulai dari nenek-nenek sampe anak kecil baru belajar baca akan mengaitkan dengan mudik. Gw Rasa gak perlu kita bawa-bawa nenek yang udah uzur buat meyakinkan kalian semua kalo fenomena (kalo boleh gw sebut begitu) mudik ini juga terjadi di kampus gw, FKUI.
Gw rasa gak perlu juga kita bawa2 anak yang baru belajar baca buat ngasih tau kalau mudik itu hanya berlaku buat orang punya kampung halaman. Contoh simpel,… Gw.. gw yang secara nama, Septo Sulistio, dapat dipastikan berasal dari suku Jawa memiliki kampung halaman di Sumatera Utara.
Kok???
Kalau itu pertanyaan loe, gw gak bakal jelasin karena bakalan menguak luka lama kelamnya sejarah perjuangan bangsa ini di masa penjajahan Belanda dan masa revolusi. Jadi terima aja kenapa gw, begitu membuka mata gua pas lahir langsung ketemu orang batak, either orang jawa.
Kembali ke masalah mudik yang tadi kita bahas dan tetap tinggalkan sang nenek dan cucnya di habitatnya. Buat yang gak punya kampung halaman seperti temen gw yang mulai dari jaman engkongnya mbrojol udah di Jakarta maka istilah mudik gak berlaku buat mereka.
Hal yang paling signifikan berhubungan dengan lebaran dan mudik adalah harga sembako dan tiket angkutan lebaran.
Gw bingung.. kayaknya harga tiket itu seperti orang yang pergi Haji, mengenal istilah “naik” Haji tapi gak kenal istilah “turun” haji. Begitu tiket kena tuslag, maka dapat dipastikan bahwa tu harga bakalan tetep bercokol dikisaran harga tersebut meskipun lebaran udah lewat setengah tahun.
Angkutan umum yang begitu merasakan imbas kenaikan harga tiket adalah pesawat terbang, bukan pesawat telepon. Mulai dari tahun 2003 gw amati tiket penerbangan murah itu sekitar 300 ribuan dan dalam jangka waktu 5 tahun udah jadi 1 juta-an untuk harga dasar (base fare).
Gw sih ngerasa keberatan, tapi seperti yang gw udah pernah ulis, selalu ada makna dibalik setiap peristiwa.. just press the pause button and see.. kenapa?? Karena dibalik kebingungan gw akan naiknya harga tiket pesawat ke Medan justru ada yang lebih gila lagi, yaitu temen2 gw yang tujuan mudiknya ada di belahan timur Republik Indonesia tercinta.
Mereka harus merogoh kocek 3 juta-an untuk mudik kali ini. Itupun dengan pesawat yang reputasi jatuhnya sama bagusnya dengan reputasi terbangnya.
3 juta??‼
Buat sebagian orang itu mungkin kecil, tapi buat sebagian orang, dompet mereka terlalu kecil untuk memuat uang sebanyak itu.
Terus, ada yang berpendapat, ngapain mudik, lebaranan di Jakarta aj???
Buat loe yang tinggal di rumah itu adalah pertanyaan ringan yang bisa keluar sambil ngisap rokok. Tapi buat anak2 yang nge-kos.. itu adalah masalah krusial.
Begini analisisnya,
1. Mudik sudah menjadi budaya masyarakat Indonesia
2. Mbak-mbak warteg menyediakan logistik untuk anak-anak kos
3. Mbak-mbak warteg adalah bagian dari masyarakat Indonesia
Coba gabungkan 1 dengan 3 kemudian tarik hubungan dengan 2 sehingga didapat kesimpulan yang sebut saja A
4. Tidak ada logistik= wabah kelaparan
5. Kelaparan mendekatkan kita kepada anarki
Sekarang gabungkan A dengan 4 dan 5 maka akan didapatkan peningkatan angka rawan pangan dan anarki di Jakarta.
Simpel kan… betapa krusialnya mudik buat sebagian besar warga Jakarta.