(part 1)
Travelling…. All U have to do is taking the first step…(Ibn Batuttah)
Ungkapan diatas gw ambil dari buku Traveler’s tale. Setelah membaca buku itu gw merasa gw harus travel ke tempat-tempat baru. Travelling is a good thing to do. Dulu temen gw punya ide ”gila” buat backpack “tour de java”. Intinya kita bakalan nyusurin pulau jawa ( jangan bayangin gw bakal nyusurin jalur di jawa seperti gw nyusurin jari gw diatas peta jawa... It’s not that simple) dan nginep dirumah-rumah penduduk. Sounds great hah...??!! kayak di film-film n di Negara-negara barat gitu.. Tapi sebelum ide itu terwujud, yang punya ide keburu kuliah ke Ausie, so we buried the plan deeper in our head. Jadi setelah gw ngebaca tu buku, ide yang terkubur tadi digelitk untuk bangkit kembali.
Lama gw berpikir buat nge-realisasiin ide traveling itu. Pertimbangan-pertimbangan muncul buat ngejatuhin ide itu kembali kedalam kepala gw. Pertimbangan terbesar adalah, tentu saja masalah biaya. Dibutuhkan biaya yang tidak sedikit untuk melakukan suatu perjalanan wisata. Tapi, back to the book… bukan traveler’s tale kalo gak ngasih cara buat traveling yang murah. (asem,.. dibayar berapa gw buat promosiin tuh buku.??)
Akhirnya setelah pikir sana pikir sini sambil ngerubah posisi kepala gw jadi di bawah dan kaki gw yang diatas, sambil menelaah (asyikk..!! (“,)..) kata2 di awal tulisan ini, gw memutuskan akan menjalani ide itu. Dan tempat yang gw pilih adalah....... BANDUNG (udah, loe gak usah mikir gw bakal pergi jauh2, mengingat budget gw minim)
Kenapa Bandung??? Knapa yah....?? banyak alasannya....tapi gw bakal urai dalam cerita dibawah.
First day
Hari jum’at pagi, 6 April 2007, gw bangun di pagi hari dan menyadari bahwa gw harus melakukan perjalanan sejauh ± 150km ke arah barat pulau Jawa padahal dengan santainya gw tidur diatas jam tidur orang normal (tenang aja, gw masih normal walaupun gw biasa tidur jam 1 keatas hampir setiap harinya di hari kerja). Gw mesti buru-buru ke stasiun Gambir buat ngejar kereta jam 07.40 WIB. Gw merencanakan buat ke Bandung by train, why...?? simple.. coz I Haven’t gone there by train yet. Gw pernah kesana naik mobil bareng temen2 kampus gw. Dengan pertolongan temen gw, yang dengan ikhlasnya mengantar gw ke Gambir pake motornya, maka kurang dari 10 menit gw udah nyampe (jarak dari kosan gw ke Gambir termasuk dekat. Dari atas loteng kosan, gw bisa melihat monas, gw pernah nyoba kesana pake sepeda gw dan nyampe dalam waktu 15 menit… Not so far isn’t it? ) selain itu gw menghemat Rp 8000; kalo gw harus naik bajaj dan tidak mendapatkan efek susulan dari mengendarai bajaj (efek DUGEM (duduk gemetar)..).
Sampai di stasiun, gw langsung calling temen gw yang memang mau ke Bandung juga hari itu, guess What?? All the tickets was Sold Out !!, semua tiket kereta bisnis PARAHYANGAN buat ke Bandung udah habis sampe jam 10.00 dan baru ada lagi buat jam 12.25 WIB sementara waktu sudah menunjukkan pukul 07.41WIB ( sori, harusnya bukan sudah menunjukkan tapi masih menunjukkan) dan ada sekitar 5 jam lagi kalo gw harus ambil tiket jam 12.25 itu. Malu buat balik ke kosan, akhirnya gw mutusin buat naik eksekutif ARGO GEDE seharga Rp 60.000; buat keberangkatan jam 10.00 WIB. So, I buy that Damn Lucky Ticket… Gw semakin terancam secara financial di tempat tujuan.
Gw menunggu kereta di lantai atas stasiun sambil mengobrol dengan teman gw. Gambir ternyata cukup menarik. Setelah membeli tiket, gw menunggu di suatu ruang tunggu yang berbentuk melingkar dengan konter penjual makanan dan minuman yang beraa di bagian luar lingkaran tadi dan bangku penunggu di sebelah dalam. Dari sini tampak para calon penumpang yang sebagian tampak mondar mandir mengejar kereta yang akan berangkat di bagian atas ruangan. Sebagian lain duduk menunggu giliran berangkat. Calon penumpang ada yang sendirian, berpasangan maupun dengan keluarga. What a nice view.. (tentu aja buat viewnya dan bukan berpasangannya). Seandainya semua moda transportasi umum bisa se-menyenangkan ini, gw yakin penduduk Jakarta akan lebih memilih menggunakan kendaraan umum daripada kendaraan pribadi In the End kemacetan gak menjadi masalah di Jakarta.
Pukul 09.40 gw naik ke bagian atas stasiun untuk menunggu kereta yng sebentar lagi akan masuk peron. Stasiun Gambir yang berada dalam satu kompleks Monumen Nasional (MoNas) terdiri atas 3 lantai. Lantai 1 terdiri atas loket pembelian tiket, food court, tempat parkir dibagian luar gedung, WC, mushola, Taxi Pool dan Airport Bus Pool (DAMRI). Naik dari lantai 1 atau lantai dasar yaitu lantai 2, kita akan melewati pemeriksaan tiket. Di lantai 2 kita akan sampai di ruang tunggu berbentuk lingkaran. Naik ke lantai 3 kita akan menemukan peron keberangkatan. Dari sini kita bisa melihat komplek Monas. Walaupun gw udah berpuluh kali melihat Monas, gw gak akan pernah bosan untuk datang ke Monas (mau tau alasannya??? Liat blog MONAS I’m In Love With U).
Ada 4 peron di stasiun gambir.
Masing-masing peron punya jalan masuknya masing-masing. Untuk peron 1 dan 2 punya jalan masuk bersama yang terpisah dari peron 3 dan 4. Gak usah bingung, di lantai 2 ada direction sign sebelum menuju ke lantai 3, tepatnya didepan tangga atau esklator lantai 2. Gw menunggu di peron 4 sesuai dengan yang tertulis di karcis kereta. Di situ tertulis kereta Argo Gede, peron 4, gerbong 3, seat 8D, jadi gw bisa lihat tempat dimana gw harus duduk. Untuk yang pertama kali menggunakan kereta untuk perjalanan lintas daerah, JANGAN PANIK, petugas kereta akan siap membantu para penumpang (karena ini memang bagian dari pekerjaan mereka).
Kenapa gw nekat pergi pake kereta Eksekutif padahal dana perjalanan gw pas-pasan adalah karena gw ingin merasakan bagaimana rasanya naik kereta eksekutif sebab di kemudian hari gw bakalan lebih prefer kereta bisnis, jadi I have to try at least once in my life.. Buy experience is more valueable than buying things, isn’t it!!.
Kereta gw datang pukul 09.50. Since, it’s the first time i used train to travel and alone, maka gw gak boleh melakukan tindakan bodoh dengan tidak bertanya. Salah satu masalah yang bakalan dihadapi orang yang jalan sendirian adalah ketidaktahuan dan ini bakalan merusak seluruh perjalanan kalau kita gengsi atau takut untuk bertanya.
Suasana kabin di kereta eksekutif tepat seperti yang digambarkn teman gw, Nyaman!!. Susunan kursi penumpang adalah susunan 2.2 dimana dalam satu line kursi terdapat 4 kursi yang dipisahkan oleh daerah selebar ± 1 meter untuk melintasnya orang dan barang.
Interior kereta dalam satu kabin terdiri atas susunan kursi penumpang, 4 TV kabel dengan 2 TV ukuran 21 inci di bagian depan dan belakang kabin serta 2 tv ukuran ± 14 inci tergantung dibagian atas. TV ini adalah TV kabel kereta yang menampilkan promosi dari PT. Kereta Api Indonesia (KAI), Video klip lagu, film yang di putar sepanjang perjalanan serta iklan. Satu kabin dengan kabin lainnya dipisahkan oleh pintu otomatis yang dapat dibuka dengan menek
an tombol yang ada di dinding sebelah pintu. Kamar kecil ada di anatra kabin atau di balik pintu otomatis tadi. Jangan berharap mendapatkan kamar kecil senyaman di hotel atau di rumah karena kamar kecil ini hanya seukuran satu orang sumo wrestler (kalo dipaksain, bisa juga sih muat kedalam situ), dengan 1 kloset, 1 wastafel, serta tempat tisu dan cermin. Untuk pembuangan, kayaknya mereka membuang langsung ke LUAR which mean ke daerah sekitar rel yang dilewati. Kebayang kan betapa nasty-nya tinggal di sekitar rel lintas kota.
Perjalanan gw tempuh dalam ± 3 jam atau gw sampai di Bandung sekitar pukul 13.00an. Sesampainya di Bandung gw disambut dengan hujan gerimis yang semakin membuat suasana Bandung yang terkenal sejuk menjadi semakin menggoda mata gw untuk terpejam. SMS dari teman gw mengatakan bahwa dia gak bisa jemput gw di stasiun karena ada urusan mendadak. Jadilah teman gw yang lain yang akan menjemput. Satu tips buat travelling adalah kalau kita punya kenalan ditempat yang kita tuju bakalan menguntungkan sekali baik secara finansial maupun non finansial seperti, waktu, tour guide, dan hal-hal lain yang gak bakalan ditemui kalo baca dari Travel Guide Book manapun.
Sehabis sholat Dzuhur (gw gak Jum’atan karena masih diatas kereta saat Waktu itu tiba), gw menunggu kedatangan teman gw. Gw menunggu di depan loket tiket kereta yang cukup luas dan bersih.
Wahyu, teman gw yang akan menjemput gw. Gw terakhir ketemu dia saat perpisahan SMU, kira-kira 4 tahun yang lalu (cukup lama bukan..??).
Saat di perjalanan gw baru menyadari kalo gw gak bawa apa2 buat gw kasih ke teman2 gw (dasar bego,... saran gw, kalo loe mau ngunjungin teman2 loe, setidaknya loe bawa buah tangan biar loe gak terlalu keliatan kayak orang susah.. yah setidaknya loe punya itikad baik..).
Sekitar 10 menit kemudian sesosok cowok yang mukanya gak asing buat gw terlihat berjalan mencari-cari di depan jalan masuk stasiun. Gw mengenalinya sebagai Wahyu. He’s still the same when I saw him 4 years ago, nothing has changed. Dari stasiun menuju kosannya di daerah Dipati Ukur (sebentar lagi dia berencana bakal pindah kosan) kami harus berganti angkot sebanyak 2 kali. We arrived at his dormitory.. it seemed so familiar… Gw ingat kalo gw pernah lewat daerah sini pas terakhir gw ke Bandung bareng teman2 kampus gw. Kesan gw, kosan Wahyu gak jauh beda sama kosan gw di Jakarta.
Singkat cerita, sore itu gw langsung calling anak2 buat jalan bareng ntar malemnya. Wahyu bilang kalo malam itu ada pertunjukkan seni Bali di Kampus ITB. So, malem itu Gw, Wahyu, Naen and Devi, kita berempat jalan ke Kampus ITB. Sebenarnya gw juga brusaha ngehubungin Topan dan Zulhendra buat ikut.
Zulkarnaen (Naen), seperti halnya Wahyu, gw terakhir kali ketemu sekitar 3 tahun lalu. Berbeda dengan Wahyu, di zaman SMU dulu gw pernah maen sampai nginep dirumah Naen begitupula dia. Saat ini Naen kuliah di ITB Perminyakan sedangkan Wahyu Di ITB Penerbangan. Keduanya angkatan 2004.
Kalau Topan dan Zulhendra, keduanya adalah anak Jakarta yang kebetulan satu SMU bareng gw di pelosok Sumatera Utara. Keduanya kuliah di STT Telkom Informatika angkatan 2003. Alasannya kenapa mereka gak ikut malam itu adalah karena Kampus mereka itu jauh dari kampus ITB, kalau menurut Naen sih, perjalanan dari ITB ke STT Telkom itu seperti mengukur Kota Bandung, secara ITB itu di Bandung Utara dan Telkom itu di Bandung Selatan (mari, kita bayangkan bagaimana caranya mengukur kota Bandung ???)
Nah yang terakhir, ehem…(gw kasih efek dramatis dulu yah!!… Tolong Drumnya di roll dong!!….”Drtrtrtrtrtrtrtrtrtrtr”….Thank U !!) si Devi atau lengkapnya Devi Andriani. Dia jadi yang paling cantik malam itu (kita ber3 adalah cowok dan dia ber1 adalah cewek!! Got the point??). Dia juga teman SMU kita, kalau sama dia gw terakhir ketemu saat reunian sekolah sekitar 1 tahun yang lalu, dan itu gak bakalan kita bahas disini.
Sisa-sisa hujan tadi siang masih terasa saat kami menginjakkan kaki di Kampus ITB. Man, this is the place where lots of high school students dream to study. Acara pagelaran seni budaya Bali dilaksanakan di lapangan basket di dekat pintu gerbang kampus. Acara malam itu diadakan oleh salah satu Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Budaya Bali di ITB. Acara malam itu mempertunjukkan seni Bali tari dan seni peran (untuk yang seni peran kami gak sempat nonton).
Belum kelar pertunjukkan, Naen mendesak untuk makan malam sedangkan Wahyu masih menonton dengan khusyuknya (Padahal kalau dengerin khotbah Jum’at dia gak bakalan se Khusyuk itu… hehe.. Pisss Yu..). di sepanjang pertunjukkan Naen menyapa beberapa kenalan. Tampak kalau dia tidak banyak berubah dalam bergaul. Dari zamannya kita SMU, dia memang terkenal supel dalam bergaul, jadi gak heran kalau temannya banyak. Mulai dari guru, instruktur sampai satpam sekolah (menurutnya satpam itu harus di kompakin biar gampang kalau mau Kabur dari Asrama).
Lokasi makan diputuskan di Waroeng Steak® (WS). WS adalah tempat makan yang menganut sistim franchise. Selama makan, kami ber”nostalgila” masa SMU, tentang ke”gila’an kami, sampai masalah Asrama yang berbau mistik....
Sambil makan, rencana disusun agar kami bisa melanjutkan perjalanan lagi malam itu. Pada akhirnya kami tidak bisa menemukan rencana untuk menghabiskan malam itu kecuali mengantar Devi pulang kembali ke kos-annya. Sesampainya dilokasi, kami hanya bisa mengobrol di ruang tamu karena kosan tersebut wilayah terlarang buat Cowok (Kos-an khusus cewek; red).
Selesai malam itu kami kembali ke kosan Wahyu untuk beristirahat. Malam itu kami berencana untuk langsung kekosan Naen buat menginap bareng. Ternyata, begitu selesai sholat Isya kami pada tepar... akhirnya rencana malam itu untuk kembali ke kosan Naen batal sudah, kecuali Naen.... pada pukul setengah 3 dia balik ke kosan .. (o iya,...punya motor lho.... tapi bayangin betapa dinginnya Bandung disaat seperti itu). Hari pertama di tutup...

Keterangan gambar: ki-ka : Wahyu- Topan- Naen- Orang Cakeph- Mbok Nah (... Yah nggak lah... sapa lagi kalo bukan Devi)...