on Sunday, April 22, 2007

Bahasa Indonesia Sebagai Bahasa Internasional

Apa makna terpenting dari berkomunikasi? Sesungguhnya makna berkomunikasi adalah terjadinya saling pengertian antara pemberi pesan dengan penerima pesan. Untuk mencapai tujuan ini diperlukan suatu alat untuk berkomunikasi.

Alat berkomunikasi yang paling sederhana adalah bahasa. Bahasa memiliki bentuk yang bermacam-macam. Setiap makhluk hidup memiliki bahasanya masing-masing mulai dari tumbuhan sampai manusia. Dalam bagian terkecil tubuh suatu individu, yaitu sel, juga terjadi komunikasi meskipun dengan bahasanya sendiri.

Bahasa dapat berupa isyarat yang sangat sederhana hingga sinyal-sinyal yang sangat rumit. Semakin rumit suatu bahasa maka semakin sedikit individu yang dapat memahami maknanya sehingga akan semakin spesifik jenis individu yang saling berinteraksi. Sebaliknya, semakin sederhana suatu bahasa maka akan semakin banyak individu yang dapat memahami dan semakin bervariasi jenis individu yang berinteraksi. Akan tetapi disini perlu dibedakan antara sederhana dengan primitif. Bahasa yang diuraikan disini adalah bahasa yang digunakan oleh manusia.

Salah satu jenis bahasa adalah bahasa Indonesia. Bahasa ini digunakan oleh masyarakat yang mendiami wilayah Negara Indonesia. Bahasa ini termasuk dalam rumpun Bahasa Melayu. Bahasa Melayu digunakan oleh negara-negara di sekitar Asia Tenggara. Bahasa Indonesia termasuk bahasa yang paling sederhana di dunia. Tidak seperti Bahasa Inggris yang mempunyai 16 bentuk waktu untuk penyusunan kalimat atau Bahasa Arab yang jauh lebih rumit lagi .

Tidak ada aturan yang kaku dalam berbahasa Indonesia. Cukup menguasai perbendaharaan kata maka kita dapat berbicara dalam bahasa indonesia tanpa harus takut terjadi kesalahan susunan. Kita cukup mengubah nada suara kita untuk menjelaskan waktu atau maksud yang berbeda. Terbaliknya susunan kata dalam kalimat masih dapat dimengerti dalam bahasa Indonesia. Selain itu dibandingkan dengan bahasa serumpunnya yang lain, bahasa Indonesia adalah bahasa yang paling mengalami perkembangan dari akar bahasanya.


hi.. global people... meet us... part of Indonesian people....

Jadi, Bahasa Indonesia sebagai bahasa pergaulan internasional,

Kenapa Tidak !!!




Hatiku Meradang…

Hatiku Meradang…

Hatiku me”radang” mendengar berita yang menusuk hati. Bagaimana tidak ucapan kasar yang sangat tidak layak diucapkan oleh orang berpendidikan seperti dia, begitu mudah mengalir keluar melalui gerakan lidahnya.”...

Apakah anda memperhatikan kata yang tercetak tebal diatas?? Yup, RADANG... Kata ini sering dipakai oleh masyarakat luas untuk menggambarkan sesuatu yang tidak menyenangkan. Sebagai contoh:

” iyah ni gw lagi kena radang tenggorokan..”

”Pak Guru lagi meradang melihat kelakuan anak didiknya yang kelewat batas”

”Peradangan kulit menimbulkan rasa sakit yang mengganggu aktivitas kita”

See, tapi sesungguhnya apakah arti radang sebenarnya???

Dalam terminologi kesehatan, radang yang dalam bahasa Inggris disebut inflammation adalah:

In.flam.ma.tion [L (latin) inflammatio; inflammare membakar] respon protektif setempat yang ditimbulkan oleh cedera atau kerusakan jaringan, yang berfungsi menghancurkan, mengurangi atau mengurung (sekuester) baik agen pencedera maupun jaringan yang cedera itu.-- (DORLAND medical Dictionary)

Ada 5 tanda radang klasik:

  1. Dolor (nyeri)
  2. Kalor (panas)
  3. Rubor (kemerahan)
  4. Tumor (bengkak)
  5. Fungsio lesa ( hilangnya fungsi)

Melihat ke-5 tanda diatas apabila terdapat ke-5 nya dapat dipastikan bahwa telah terjadi proses peradangan. Ke-5 tanda radang tadi dapat terlihat pada fase awal (akut) peradangan. Apabila sudah berjalan lama (kronik) maka biasanya ada salah satu tanda yang tidak terlihat.

Bila kita memperhatikan tanda yang ke 4, maka dapat terlihat kata TUMOR. Tumor artinya bengkak. Banyak persepsi di masyarakat yang kurang tepat dimana menyamakan bahwa tumor adalah kanker. Padahal Tumor dan kanker adalah dua hal yang berbeda. It’s different for each other.

Kanker kalau di Indonesia-kan dapat disebut dengan keganasan. So, kalau anda sedang iseng jalan-jalan ke rumah sakit dan tanpa sengaja menguping pembicaraan dokter, terdengar kata ”KEGANASAN”, maka yang dimaksud adalah kanker.

Kanker menimbulkan tumor (bengkak) karena terjadi reaksi tubuh untuk melawan suatu proses yang tidak fisiologis (kalo, kata orang betawi ”kagak beres dah”), yaitu peradangan. Jadi kanker akan menimbulkan peradangan yang diikuti oleh kelima tanda tadi sedangkan Tumor BELUM TENTU suatu kanker.

Tumor belum tentu kanker. Why??? Sekarang silahkan anda analogikan dengan jerawat diwajah anda atau orang yang lagi nge-net di sebelah anda atau kalo tidak ada dengan mas2 penjaga warnet. Sekarang pikirkan apakah jerawat anda berupa pembengkakan ???(definisi pembengkakan saya harap juga sudah tau, … yaitu perbedaan ketinggian suatu permukaan dengan permukaan disekitarnya) . Kalau benar, sekarang pikirkan apakah itu suatu kanker…?? Pasti anda tidak ingin dikatakan menderita kanker.

So, dari sekarang, berhati-hatilah dalam menggunakan kata-kata atau hatiku akan meradang…. mendengarnya.

Rgds

Travelling in …

on Friday, April 20, 2007

(part 1)

Travelling…. All U have to do is taking the first step…(Ibn Batuttah)

Ungkapan diatas gw ambil dari buku Traveler’s tale. Setelah membaca buku itu gw merasa gw harus travel ke tempat-tempat baru. Travelling is a good thing to do. Dulu temen gw punya ide ”gila” buat backpack “tour de java”. Intinya kita bakalan nyusurin pulau jawa ( jangan bayangin gw bakal nyusurin jalur di jawa seperti gw nyusurin jari gw diatas peta jawa... It’s not that simple) dan nginep dirumah-rumah penduduk. Sounds great hah...??!! kayak di film-film n di Negara-negara barat gitu.. Tapi sebelum ide itu terwujud, yang punya ide keburu kuliah ke Ausie, so we buried the plan deeper in our head. Jadi setelah gw ngebaca tu buku, ide yang terkubur tadi digelitk untuk bangkit kembali.

Lama gw berpikir buat nge-realisasiin ide traveling itu. Pertimbangan-pertimbangan muncul buat ngejatuhin ide itu kembali kedalam kepala gw. Pertimbangan terbesar adalah, tentu saja masalah biaya. Dibutuhkan biaya yang tidak sedikit untuk melakukan suatu perjalanan wisata. Tapi, back to the book… bukan traveler’s tale kalo gak ngasih cara buat traveling yang murah. (asem,.. dibayar berapa gw buat promosiin tuh buku.??)

Akhirnya setelah pikir sana pikir sini sambil ngerubah posisi kepala gw jadi di bawah dan kaki gw yang diatas, sambil menelaah (asyikk..!! (“,)..) kata2 di awal tulisan ini, gw memutuskan akan menjalani ide itu. Dan tempat yang gw pilih adalah....... BANDUNG (udah, loe gak usah mikir gw bakal pergi jauh2, mengingat budget gw minim)

Kenapa Bandung??? Knapa yah....?? banyak alasannya....tapi gw bakal urai dalam cerita dibawah.

First day

Hari jum’at pagi, 6 April 2007, gw bangun di pagi hari dan menyadari bahwa gw harus melakukan perjalanan sejauh ± 150km ke arah barat pulau Jawa padahal dengan santainya gw tidur diatas jam tidur orang normal (tenang aja, gw masih normal walaupun gw biasa tidur jam 1 keatas hampir setiap harinya di hari kerja). Gw mesti buru-buru ke stasiun Gambir buat ngejar kereta jam 07.40 WIB. Gw merencanakan buat ke Bandung by train, why...?? simple.. coz I Haven’t gone there by train yet. Gw pernah kesana naik mobil bareng temen2 kampus gw. Dengan pertolongan temen gw, yang dengan ikhlasnya mengantar gw ke Gambir pake motornya, maka kurang dari 10 menit gw udah nyampe (jarak dari kosan gw ke Gambir termasuk dekat. Dari atas loteng kosan, gw bisa melihat monas, gw pernah nyoba kesana pake sepeda gw dan nyampe dalam waktu 15 menit… Not so far isn’t it? ) selain itu gw menghemat Rp 8000; kalo gw harus naik bajaj dan tidak mendapatkan efek susulan dari mengendarai bajaj (efek DUGEM (duduk gemetar)..).

Sampai di stasiun, gw langsung calling temen gw yang memang mau ke Bandung juga hari itu, guess What?? All the tickets was Sold Out !!, semua tiket kereta bisnis PARAHYANGAN buat ke Bandung udah habis sampe jam 10.00 dan baru ada lagi buat jam 12.25 WIB sementara waktu sudah menunjukkan pukul 07.41WIB ( sori, harusnya bukan sudah menunjukkan tapi masih menunjukkan) dan ada sekitar 5 jam lagi kalo gw harus ambil tiket jam 12.25 itu. Malu buat balik ke kosan, akhirnya gw mutusin buat naik eksekutif ARGO GEDE seharga Rp 60.000; buat keberangkatan jam 10.00 WIB. So, I buy that Damn Lucky Ticket Gw semakin terancam secara financial di tempat tujuan.

Gw menunggu kereta di lantai atas stasiun sambil mengobrol dengan teman gw. Gambir ternyata cukup menarik. Setelah membeli tiket, gw menunggu di suatu ruang tunggu yang berbentuk melingkar dengan konter penjual makanan dan minuman yang beraa di bagian luar lingkaran tadi dan bangku penunggu di sebelah dalam. Dari sini tampak para calon penumpang yang sebagian tampak mondar mandir mengejar kereta yang akan berangkat di bagian atas ruangan. Sebagian lain duduk menunggu giliran berangkat. Calon penumpang ada yang sendirian, berpasangan maupun dengan keluarga. What a nice view.. (tentu aja buat viewnya dan bukan berpasangannya). Seandainya semua moda transportasi umum bisa se-menyenangkan ini, gw yakin penduduk Jakarta akan lebih memilih menggunakan kendaraan umum daripada kendaraan pribadi In the End kemacetan gak menjadi masalah di Jakarta.

Pukul 09.40 gw naik ke bagian atas stasiun untuk menunggu kereta yng sebentar lagi akan masuk peron. Stasiun Gambir yang berada dalam satu kompleks Monumen Nasional (MoNas) terdiri atas 3 lantai. Lantai 1 terdiri atas loket pembelian tiket, food court, tempat parkir dibagian luar gedung, WC, mushola, Taxi Pool dan Airport Bus Pool (DAMRI). Naik dari lantai 1 atau lantai dasar yaitu lantai 2, kita akan melewati pemeriksaan tiket. Di lantai 2 kita akan sampai di ruang tunggu berbentuk lingkaran. Naik ke lantai 3 kita akan menemukan peron keberangkatan. Dari sini kita bisa melihat komplek Monas. Walaupun gw udah berpuluh kali melihat Monas, gw gak akan pernah bosan untuk datang ke Monas (mau tau alasannya??? Liat blog MONAS I’m In Love With U).

Ada 4 peron di stasiun gambir. Masing-masing peron punya jalan masuknya masing-masing. Untuk peron 1 dan 2 punya jalan masuk bersama yang terpisah dari peron 3 dan 4. Gak usah bingung, di lantai 2 ada direction sign sebelum menuju ke lantai 3, tepatnya didepan tangga atau esklator lantai 2. Gw menunggu di peron 4 sesuai dengan yang tertulis di karcis kereta. Di situ tertulis kereta Argo Gede, peron 4, gerbong 3, seat 8D, jadi gw bisa lihat tempat dimana gw harus duduk. Untuk yang pertama kali menggunakan kereta untuk perjalanan lintas daerah, JANGAN PANIK, petugas kereta akan siap membantu para penumpang (karena ini memang bagian dari pekerjaan mereka).

Kenapa gw nekat pergi pake kereta Eksekutif padahal dana perjalanan gw pas-pasan adalah karena gw ingin merasakan bagaimana rasanya naik kereta eksekutif sebab di kemudian hari gw bakalan lebih prefer kereta bisnis, jadi I have to try at least once in my life.. Buy experience is more valueable than buying things, isn’t it!!.

Kereta gw datang pukul 09.50. Since, it’s the first time i used train to travel and alone, maka gw gak boleh melakukan tindakan bodoh dengan tidak bertanya. Salah satu masalah yang bakalan dihadapi orang yang jalan sendirian adalah ketidaktahuan dan ini bakalan merusak seluruh perjalanan kalau kita gengsi atau takut untuk bertanya.

Suasana kabin di kereta eksekutif tepat seperti yang digambarkn teman gw, Nyaman!!. Susunan kursi penumpang adalah susunan 2.2 dimana dalam satu line kursi terdapat 4 kursi yang dipisahkan oleh daerah selebar ± 1 meter untuk melintasnya orang dan barang.

Interior kereta dalam satu kabin terdiri atas susunan kursi penumpang, 4 TV kabel dengan 2 TV ukuran 21 inci di bagian depan dan belakang kabin serta 2 tv ukuran ± 14 inci tergantung dibagian atas. TV ini adalah TV kabel kereta yang menampilkan promosi dari PT. Kereta Api Indonesia (KAI), Video klip lagu, film yang di putar sepanjang perjalanan serta iklan. Satu kabin dengan kabin lainnya dipisahkan oleh pintu otomatis yang dapat dibuka dengan menekan tombol yang ada di dinding sebelah pintu. Kamar kecil ada di anatra kabin atau di balik pintu otomatis tadi. Jangan berharap mendapatkan kamar kecil senyaman di hotel atau di rumah karena kamar kecil ini hanya seukuran satu orang sumo wrestler (kalo dipaksain, bisa juga sih muat kedalam situ), dengan 1 kloset, 1 wastafel, serta tempat tisu dan cermin. Untuk pembuangan, kayaknya mereka membuang langsung ke LUAR which mean ke daerah sekitar rel yang dilewati. Kebayang kan betapa nasty-nya tinggal di sekitar rel lintas kota.

Perjalanan gw tempuh dalam ± 3 jam atau gw sampai di Bandung sekitar pukul 13.00an. Sesampainya di Bandung gw disambut dengan hujan gerimis yang semakin membuat suasana Bandung yang terkenal sejuk menjadi semakin menggoda mata gw untuk terpejam. SMS dari teman gw mengatakan bahwa dia gak bisa jemput gw di stasiun karena ada urusan mendadak. Jadilah teman gw yang lain yang akan menjemput. Satu tips buat travelling adalah kalau kita punya kenalan ditempat yang kita tuju bakalan menguntungkan sekali baik secara finansial maupun non finansial seperti, waktu, tour guide, dan hal-hal lain yang gak bakalan ditemui kalo baca dari Travel Guide Book manapun.

Sehabis sholat Dzuhur (gw gak Jum’atan karena masih diatas kereta saat Waktu itu tiba), gw menunggu kedatangan teman gw. Gw menunggu di depan loket tiket kereta yang cukup luas dan bersih.

Wahyu, teman gw yang akan menjemput gw. Gw terakhir ketemu dia saat perpisahan SMU, kira-kira 4 tahun yang lalu (cukup lama bukan..??). Saat di perjalanan gw baru menyadari kalo gw gak bawa apa2 buat gw kasih ke teman2 gw (dasar bego,... saran gw, kalo loe mau ngunjungin teman2 loe, setidaknya loe bawa buah tangan biar loe gak terlalu keliatan kayak orang susah.. yah setidaknya loe punya itikad baik..).

Sekitar 10 menit kemudian sesosok cowok yang mukanya gak asing buat gw terlihat berjalan mencari-cari di depan jalan masuk stasiun. Gw mengenalinya sebagai Wahyu. He’s still the same when I saw him 4 years ago, nothing has changed. Dari stasiun menuju kosannya di daerah Dipati Ukur (sebentar lagi dia berencana bakal pindah kosan) kami harus berganti angkot sebanyak 2 kali. We arrived at his dormitory.. it seemed so familiar… Gw ingat kalo gw pernah lewat daerah sini pas terakhir gw ke Bandung bareng teman2 kampus gw. Kesan gw, kosan Wahyu gak jauh beda sama kosan gw di Jakarta.

Singkat cerita, sore itu gw langsung calling anak2 buat jalan bareng ntar malemnya. Wahyu bilang kalo malam itu ada pertunjukkan seni Bali di Kampus ITB. So, malem itu Gw, Wahyu, Naen and Devi, kita berempat jalan ke Kampus ITB. Sebenarnya gw juga brusaha ngehubungin Topan dan Zulhendra buat ikut.

Zulkarnaen (Naen), seperti halnya Wahyu, gw terakhir kali ketemu sekitar 3 tahun lalu. Berbeda dengan Wahyu, di zaman SMU dulu gw pernah maen sampai nginep dirumah Naen begitupula dia. Saat ini Naen kuliah di ITB Perminyakan sedangkan Wahyu Di ITB Penerbangan. Keduanya angkatan 2004.

Kalau Topan dan Zulhendra, keduanya adalah anak Jakarta yang kebetulan satu SMU bareng gw di pelosok Sumatera Utara. Keduanya kuliah di STT Telkom Informatika angkatan 2003. Alasannya kenapa mereka gak ikut malam itu adalah karena Kampus mereka itu jauh dari kampus ITB, kalau menurut Naen sih, perjalanan dari ITB ke STT Telkom itu seperti mengukur Kota Bandung, secara ITB itu di Bandung Utara dan Telkom itu di Bandung Selatan (mari, kita bayangkan bagaimana caranya mengukur kota Bandung ???)

Nah yang terakhir, ehem…(gw kasih efek dramatis dulu yah!!… Tolong Drumnya di roll dong!!….”Drtrtrtrtrtrtrtrtrtrtr”….Thank U !!) si Devi atau lengkapnya Devi Andriani. Dia jadi yang paling cantik malam itu (kita ber3 adalah cowok dan dia ber1 adalah cewek!! Got the point??). Dia juga teman SMU kita, kalau sama dia gw terakhir ketemu saat reunian sekolah sekitar 1 tahun yang lalu, dan itu gak bakalan kita bahas disini.

Sisa-sisa hujan tadi siang masih terasa saat kami menginjakkan kaki di Kampus ITB. Man, this is the place where lots of high school students dream to study. Acara pagelaran seni budaya Bali dilaksanakan di lapangan basket di dekat pintu gerbang kampus. Acara malam itu diadakan oleh salah satu Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Budaya Bali di ITB. Acara malam itu mempertunjukkan seni Bali tari dan seni peran (untuk yang seni peran kami gak sempat nonton).

Belum kelar pertunjukkan, Naen mendesak untuk makan malam sedangkan Wahyu masih menonton dengan khusyuknya (Padahal kalau dengerin khotbah Jum’at dia gak bakalan se Khusyuk itu… hehe.. Pisss Yu..). di sepanjang pertunjukkan Naen menyapa beberapa kenalan. Tampak kalau dia tidak banyak berubah dalam bergaul. Dari zamannya kita SMU, dia memang terkenal supel dalam bergaul, jadi gak heran kalau temannya banyak. Mulai dari guru, instruktur sampai satpam sekolah (menurutnya satpam itu harus di kompakin biar gampang kalau mau Kabur dari Asrama).

Lokasi makan diputuskan di Waroeng Steak® (WS). WS adalah tempat makan yang menganut sistim franchise. Selama makan, kami ber”nostalgila” masa SMU, tentang ke”gila’an kami, sampai masalah Asrama yang berbau mistik....

Sambil makan, rencana disusun agar kami bisa melanjutkan perjalanan lagi malam itu. Pada akhirnya kami tidak bisa menemukan rencana untuk menghabiskan malam itu kecuali mengantar Devi pulang kembali ke kos-annya. Sesampainya dilokasi, kami hanya bisa mengobrol di ruang tamu karena kosan tersebut wilayah terlarang buat Cowok (Kos-an khusus cewek; red).

Selesai malam itu kami kembali ke kosan Wahyu untuk beristirahat. Malam itu kami berencana untuk langsung kekosan Naen buat menginap bareng. Ternyata, begitu selesai sholat Isya kami pada tepar... akhirnya rencana malam itu untuk kembali ke kosan Naen batal sudah, kecuali Naen.... pada pukul setengah 3 dia balik ke kosan .. (o iya,...punya motor lho.... tapi bayangin betapa dinginnya Bandung disaat seperti itu). Hari pertama di tutup...

Keterangan gambar: ki-ka : Wahyu- Topan- Naen- Orang Cakeph- Mbok Nah (... Yah nggak lah... sapa lagi kalo bukan Devi)...

(part 2)

Second Day

Sabtu, 7 April 2007. Jam 6 pagi gw terbangun. Baru sekitar pukul 9an Naen datang ke kosan Wahyu... belum mandi (dasar!!! Kebiasaan !!!). Hari itu kami mencoba menyusun rencana akan kemana seharian ini. Kesepakatan tercapai kalau sampai nanti sore kami akan berpisah mengerjakan aktivitas masing-masing. Naen harus mengantar orang tua pacarnya yang baru datang dari Medan untuk membeli Bandung dan seisinya. Wahyu harus belajar buat ujian hari Selasa dan nemuin orang tuanya yang datang dari Depok. Sedangkan gw harus ketemu Dony (temen kampus gw..) dan ngurusin bisnis kita di Bandung bareng2.

Naen harus cabut jam 11-an buat nganterin calon mertuanya untuk mengobrak- abrik Factory Outlet (FO) se-Bandung Raya. Bandung memang terkenal dengan FO-nya yang berserakan di sepanjang jalan kota Bandung terutama Dago, Cihampelas. Kalau Bali terkenal dengan wisata budaya maka Bandung terkenal dengan wisata belanjanya. Jadi Jangan heran kalau loe menemukan jalanan Bandung bakalan di penuhi Plat bernomor polisi ”B” dan bukannya ”D” setiap akhir pekannya di Bandung. And I guarantee that the traffic will be so jammed in weekend. And it’s not wise to ride a car during that situation.

Sebelum bertemu dengan calon mertuanya, gw bersama Naen memindahkan barang bawaan gw yang terdiri atas satu buah daypack dan tas pinggang ke kosan Naen di daerah Cisitu. Kesan pertama mengenai kosan Naen… berbeda 90 derajat dengan kosan Wahyu. It’s messy there, seem like have just happened a World War III. Apalagi living room. Tapi suasana gak begitu saat gw masuk ke kamarnya.. it’s al right, Peace above us all … sama kayak kamar gw.. ( pembelaan gw…)

Gw berjanji ketemuan sama Dony di kompleks Masjid Raya Bandung. Dengan motor Naen kami meluncur kesana. Masjid Raya Bandung ini baru saja selesai di bangun. Gw lupa tahun berapa, tapi yang pasti diatas tahun 2000-an. Masjid ini benar-benar masjid raya. Gede Banget... ah walaupun gak sebesar Istiqlal, tapi gw rasa cukup buat nampung sholat orang se-Bandung. Di depan masjid, di tamannya terdapat air mancur yang bagus sekali.

Dony datang ke Bandung bersama keluarganya. Dari Masjid Raya kami bertolak ke Pasar Baru di daerah Otista. Kalau di Jakarta bisa dianalogiin sama Pasar Tanah Abang. Tapi menurut ibunya Dony, barang-barang di Tanah Abang masih jauh lebih bervariasi dan lebih murah di bandingkan dengan Pasar Baru. Disana kami memilih-milih bahan kaos. Tidak seperti pusat perbelanjaan pada umumnya, Pasar Baru menyediakan tempat Sholat yang luas di bagian atapnya. Dari situ kita bisa melihat sebagian kota Bandung dan Masjid Raya beserta 2 menaranya.

Selesai dari Pasar Baru kami melanjutkan perjalanan ke daerah LeuwiSari, Leuwi Panjang untuk bertemu saudaranya Dony. Guess What??... daerah tempat tinggal saudaranya mirip banget sama daerah Johar Baru di Jakarta Pusat. There are places that look similiar even in other cities.

Masjid raya dengan 2 menaranya...(taken from pasar baru)

Semua urusan bersama Dony kelar saat masuk waktu maghrib. Gw menghubungi Naen yang sudah berada di kosnya sejak sore untuk di jemput di Masjid Raya. Setelah sholat maghrib gw menunggu kedatangan sahabat gw ini didepan pintu masuk mesjid. Ditengah penantiann gw, ternyata ada seorang “kupu-kupu” malam datang menghampiri gw sambil bertanya “ Mau kemana A’” . Gw kaget bukan kepalang. Bukan karena gw sok suci tapi lihat dong… Guys… Hallo… we are infront of a Mosque.( Nangis ajah gw...!!). Langsung aja gw bilang

“gak,makasih”. Eh dia langsung bales

“Mau ditemenin A’” (et dah..buset…Agresif banged dah!!)..

“Gak, saya lagi dapet… eh, nunggu temen “. Setelah itu beliau yang bersangkutan baru menyerah. (actually I’ve never got menstruation yet… never 4ever.. that’s only joke from me)

Sialnya Naen belum muncul-muncul juga, padahal udah hampir setengah jam. Dalam penantian, Hp gw bergetar dan ternyata Topan sedang berbicara di seberang sana. Disaat yang sama Naen pun tiba. Terjadilah teleconference yang sangant gak sehat, dimana kami sedang berada di jalanan sementara Topan duduk di dalam KBUberhadapan dengan LCD pencatat talktime. Kesepakatan dicapai kalau malam ini kami akan mengukur jalanan Bandung, ITB - STT Telkom (we were going to meet Topan and Zulhendra in Dayeuh Kolot).

Perjalanan kami tempuh dengan motor selama ± 45 menit dengan kecepatan rata-rata 50km/jam (hayo... itung berapa jarak perjalanan kami???).. setelah nyalip kanan nyalip kiri diselingi cerita Naen saat pertama kali tiba di kota Bandung akhirnya kami tiba di Kampus STT Telkom....... SELAMAT DATANG di KAMPUS STT TELKOM

Meet Topan

Untuk menemui Topan gak sulit, karena berdasarkan isu yang berkembang, Topan saat ini menjabat sebagi MenkoPolKam di BEM STT Telkom ( Man,... I’m Proud of Him ... Yang pernah Kenal Topan... Coba bayangkan Topan yang kalian kenal dengan Sekarang.... BEDA... BANGED...mulai dari cara berbicara sampai cara berkomunikasi dengan orang. Tapi TOPAN yang gw kenal masih Topan yang dulu dalam hal Sense of Humor... He’s still Funny and Always Has Fresh Jokes to Share....). Gw dan Naen mampir ke gedung SC (Student Center) tempat mangkalnya Topan.

[Markasnya topan]

Sesuai rencana kami di telepon tadi kalau kami akan menyewa sebuah mobil buat kami pakai keliling Bandung menuju Ciwidey. Tapi, mengingat rombongan yang tersedia (Zulhendra sedang balik ke Jakarta) dan kondisi Lalu lintas Bandung di akhir pekan maka kami memutuskan untuk touring Bandung pake Motor. Sebagai pejabat di kampus, tidak sulit bagi Topan buat mengadakan 2 motor pinjaman untuk kami gunakan. Sebelum jalan kami menghubungi rombongan yang akan ikut serta, Devi dan Wahyu. And Then... I rode motorcycle in the middle of Bandung traffic. Padahal di Jakarta gw jarang banget ngendarai motor.

Kami memacu motor membelah dinginnya udara malam Bandung. Setelah semua anggota rombongan berkumpul, tujuan pertama adalah tempat makan. Setelah cukup lama berdiskusi di depan komplek PUSDAI, tempat kami menjemput Wahyu, Kami memutuskan untuk makan di suatu tempat di daerah Dipati Ukur.

Tempat itu dapat dianalogikan dengan food court apabila berada di Pusat Perbelanjaan. Desain tempat itu terdiri dari satu area makan yang dikelilingi oleh konter makan yang berbeda-beda menunya, satu buah gazebo di dekat jalan masuk, areal parkiran dan wc umum di bagian belakang salah satu konter. Di tempat itu juga terdapat satu layar besar dimana sering ditampilkannya tontonan melalui suatu proyektor digital. Pada saat itu sedang di tayangkan kepada para pengunjung pertandingan liga Inggris.

Harga makanan yang ditawarkan terjangkau buat kantong mahasiswa. Bandung memang paling bisa memanjakan mahasiswa yang sedang menuntut ilmu di sana. Sembari makan kami menyusun rencana selanjutnya, tentunya saja diselingi banyolan-banyolan ringan. Rencana setelah acara makan pada malam itu adalah …… Nonton Bioskop…..MIDNIGHT !! (...Midnight???... begini yah.. kalau harus nunggu sampe besok siang kayaknya kelamaan, keburu gw balik ke Jakarta) dan tempat yang kami pilih adalah CIWALK.

Ciwalk yang terletak di jalan Cihampelas adalah salah satu tempat nongkrong yang asik. Saat kami tiba disana, hampir semua tempat sudah tutup dan hanya diskotik serta bioskop yang terlihat masih buka, disamping pos satpam tentunya. Bioskop di Ciwalk tidak seperti bioskop kelompok 21 lainnya, interior, terutama ruang tunggunya terkesan lebih formal, lebih mirip atrium suatu hotel. Setelah melihat-lihat daftar film yang akan disajikan (kayak di resto aja..), maka kami memilih “NAGA BONAR JADI 2”. Kenapa?? Karena cuma film itu yang masih diputar dalam masa waktu kedatangan kami (Film di putar jam 01.15 WIB).

Kami tiba disana pada pukul 00.05 (yah.. kurang lebih mohon maap yah...). Jadi, kami harus menunggu sampai jam 01.15 (jadi sekitar 1 jam lebih). Biasanya menunggu adalah pekerjaan yang paling gak menyenangkan, tapi bersama teman-teman, dijamin.... MENYENANGKAN...!! (catet itu Pan!!!!). Dalam penantian, kami berkesempatan mencoba kamar kecil yang disediakan, berhubung cuaca Bandung dan suasana dalam bioskop yang dingin (note: dalam suasana dingin, tubuh akan mengeluarkan cairan lewat urin lebih banyak dari pada lewat keringat dan cara eksresi yang lain.. itu fisiologis kok..)

Pukul 01.15 kami masuk studio. Guess What...?? There were only 5 people,… That’s Us...!! jadi bisa di simpulin bahwa kami hanya membayar Rp 125.000; untuk bisa menggunakan 1 studio milik kelompok 21…PRIVATELY….note that!!! PRIVATELY…!!! Bayangkan, kami bisa memilih tempat duduk semau kami dan melakukan kegiatan yang pada kondisi yang biasanya sangat tidak mungkin terjadi (karena terkesan norak menurut gw..)

Puas nonton, ternyata jam sudah menunjukkan pukul 04.30an pagi, mau pulang??? Nanggung… !!! kami meninggalkan bioskop bersama karyawan bioskop yang dinas malam terakhir. Melalui bagian belakang sebuah diskotik, terdengar suara berdegup teredam dari dalam gedung pertanda aktivitas didalam gedung belum berhenti. What a Life. Tujuan berikutnya adalah… mencari minuman yang dapat menghangatkan badan. Maka kami berangkat menyusuri jalanan hingga akhirnya tiba di daerah Setiabudhi.

Segelas STMJ (Susu Madu Telor Jahe) ditemani semangkuk mi Kuah sangat nikmat disantap ditengah udara dingin kota Bandung. Kantuk dan lelah tampak dari wajah setiap orang. Tapi lelucon Topan dan Naen mampu menghangatkan suansana melengkapi nikmatnya hidangan tadi.

Selesai semuanya …..kami mengantarkan setiap anak kembali ke kediamannya masing-masing. Dimulai dari Wahyu di Dipati Ukur kemudian dilanjutkan Devi di daerah Suci dan yang terakhir,…. mengembalikan motor dalam keadaan ngantuk berat ke daerah Dayeuh Kolot, STT Telkom.

Kami tiba di Telkom jam setengah tujuh pagi… Do You know that the guy whose the motorcycle we’re borrowed had been in Student Center asking where did we go last night???... dengan elegan Topan mengalihkan topik pembicaraan sambil mengantar kami keluar. “Itulah untungnya jadi senior ‘En!” sahut Topan. Kami berpisah dengan Topan yang harus menemui anak anggotanya yang akan mengadakan bazaar didepan pintu gerbang STT Telkom.

We Arrived at Naen Kost… Dyingly..But…. THAT WAS A GREAT NIGHT…..!!!

Semua yang gw dapat pada malam itu melebihi rencana perjalan gw yang telah gw susun. I SLEPT like a LOG… until Noon…… Pukul Setengah Empat, sesuai janji dengan Dony, gw harus udah nyampe di kompleks ITB untuk pulang bareng (Nebeng Coyyy….). Jadi perjalanan gw di Bandung gw tutup dengan berpisah didepan masjid Salman ITB dengan Naen yang mengantar dengan Motor Yamaha Vega-nya (Vega ato Crypton yah ‘En??lupa gw ). Cerita ini gw tutup dengan gambar salah satu rest area di jalan tol Cipularang serta salah satu gambar FAVORIT GW.

THANKS GUYS….. gw gak tau mesti balas pake apa, tapi yang pasti gw bakalan harus bisa nge-Treat loe pada kalo maen ke Jakarta..

THAT’S ALL FOLKS!!!