Bagaimana Lebaran berkaitan dengan anarki pernah gw bahas di tulisan gw dulu (lebaran tahun lalu). Sekarang, gw akan membahas bagaimana Lebaran berkaitan dengan kesewenang-wenangan
------------------------------------------------------------------------------------------------
Mudik adalah satu kata yang identik dengan Hari Raya. Hari raya apapun itu, Syawal, Natal, 17-an... apapun; dan konotasi mudik setara secara dangkal dengan transportasi.
Bagaimana mudik setara dengan transportasi:
Mudik = pulang kampung
Pulang kampung = dari kota mengendarai sesuatu menuju kampung
Mengendarai sesuatu = alat transportasi
Mudik = transportasi
Bagaimana mengaitkan mudik dengan kesewenang-wenangan tentu akan dengan mudah dicerna bila kalian termasuk dalam persamaan-persamaan diatas. Apakah kalian memiliki kampung halaman dan apakah kalian mengendarai sesuatu.
Bila jawabannya tidak, maka akan sulit menerima kenyataan ini.
Kenyataan bahwa budaya mudik sangat populer di Indonesia adalah hal yang tidak dapat dipungkiri lagi terutama saat lebaran. Bayangan berlebaran bersama keluarga besar di kampung halaman adalah bayaran yang "dirasa pantas" setelah berpuasa sebulan penuh.
Mudik dapat terjadi berkat bantuan alat transportasi. Buat kalian yang memiliki kendaraan pribadi, kesewang-wenangan ini kecil sekali kemungkinan untuk terjadi. Lain halnya jika anda memanfaatkan angkutan umum.
Mengapa?? cerdas jika kalian bertanya..
Begini, mudik yang dilakukan oleh orang-orang dengan kendaraan pribadi. Umumnya mereka menggunakan motor atau paling kuat mobil (gw ragu ada yang mudik pake pesawat atau kapal pribadi.. kalo ada, mw dong gw nebeng!!!). Konsekuensinya, mereka dapat mengatur sendiri jadwal keberangkatan, estimasi biaya serta tidak mungkin tertinggal.
Bagaimana yang "menumpang" alat transportasi orang lain???
Selama ini mudik ke Medan (karena gak ada bandara yang persis disebelah rumah gw, jadi gw mesti ke Medan buat naik pesawat) secara pengalaman maka gw biasanya memesan tiket sekitar 2 minggu sebelum lebaran padahal bokap udah wanti-wanti dari 3 bulan sebelumnya. Alasan gw simpel, "belum tau jadwal liburan Pak"
Akhirnya browsing sana-sini (FYI, gw memesan tiket On-line beberapa tahun belakang) gw ambil tiket dari maskapai berlogo hewan darat buas yang secara tidak masuk akal punya sayap dan ditambah lagi, katanya bisa terbang.
tgl 18 sept 2009 : CGK-MES (jakarta - medan) : base fare : Rp 897.000; ditambah ondel-ondel nya menjadi sekitar Rp 1,2 jutaan
What The Hell..... hari biasa aja tiket Jakarta-Medan PP itu 1,1 juta.. ini 1,2 juta sekali jalan. Sekali jalan !!! kalo gitu baliknya gw dipaketin aja pake TIKI.
Terus, kalau gw ambil tiket buat balik :
Tanggal 27 Sept 2009 Medan -Jakarta: base fare 1.2 jutaan --> total 1.7 juta...
Sehingga kalo gw mau ambil tiket itu totalnya Rp 2,9 juta... Nangis gw !!!! Harga segitu gw bisa beli Lensa Tele buat kamera gw... :(
Kompensasinya gw mesti geser tanggal berangkat dimana BIASA-nya pada hari H (hari Hebaran nya) biasanya tiket akan secara signifikan turun. Hasilnya...
tgl 20 Sept 2009 balik tgl 27 Sept 2009 : total 2.4 Juta, lebih murah tapi tetep aja gw masih terisak-isak.
Daripada nyokap yang terisak-isak gara-gara anak-anaknya gak pada ngumpul pas lebaran, akhirnya gw samber tuh tiket dan duduk manis. Gw merasa sedikit beruntung udah nge-save 500 ribu... sampe kemaren...
Sampai Kemaren... gw iseng browsing situs tuh maskapai dan ngecek gimana harga tiket pada hari keberangkatan gw..
tgl 20 sept 2009- tgl 27 sept 2009 : total 1.77 juta
tgl 18 sept 2009- tgl 27 sept 2009 : total 1.99 juta
GW GEDEEEEEEEEEEEEGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGHHHHHHHHHH !!!
Seenak Udelnya aja yah !!! di pikir 600 ribu itu Daunnnn!!!!!
See... Mudik = Kesewenang-wenangan
RGDS
PS: -Awas aja gw punya pesawat sendiri yah....
-
Gw jadi kepikiran, ini blog gw... gw gak bermaksud menjelek-jelekan salah satu maskapai apalagi njelekin logo-nya.. serem aja klo gw kena kasus kayak mbak Prita.. bisa gak mudik gw taun depan... So, buat yang mau komen.. jangan keceplosan "Merek" yah.. karena gw gak sebut merek !!!